
Becak Dayung di Medan
Umumnya sebuah kota berasal mula dari suatu kampung kecil yang dihuni oleh beberapa keluarga. Kemudian berkembang baik dari orang datang maupun dari berkembangnya masyarakat di kampung tersebut. Apalagi kampung itu merupakan kampung yang strategis letaknya bagi dunia perdagangan, tentu perkembangannya menjadi sebuah kota semakin cepat pula. Demikian pula halnya dengan Medan, dulu adalah sebuah kampung kecil bernama Medan Putri yang terletak di muara sungai Babura di Sungai Deli. Dimulai oleh seorang yang bernama Guru Patimpus pada tahun 1590, kampung ini lambat laun menjadi sebuah kota dan pusat perdagangan. Nah kemudian apa yang terjadi sehingga saya menyatakan bahwa Medan: dari kota besar menjadi kampung raksasa?
Setidaknya ada beberapa hal yang membuat Medan yang dulunya merupakan sebuah kota besar namun sekarang dianggap tidak layak menyandang predikat tersebut. Pertama adalah kondisi infrastruktur kota seperti jalan, trotoar, transportasi umum, bandara, sarana olahraga dan lain-lain. Kedua adalah perilaku warga kota dan ketiga adalah kondisi pelayanan publik. Saya tidak bermaksud membandingkan kondisi kota Medan dengan teori-teori mengenai kota yang mungkin sangat banyak tercetak di buku-buku teks untuk mengambil kesimpulan bahwa Medan adalah sebuah kampung besar, bukan sebuah kota. Pembanding saya adalah hati dan pengalaman saya sebagai manusia yang sekarang menghuni sebuah tempat bernama Medan.
Saya lahir di Medan sekitar 35 tahun yang lalu dan separuh hidup saya tersebut saya tinggal di kota Medan. Separuh lagi saya merantau ke kota lain di luar Sumatera Utara. Selama berpuluh tahun mengamati kota ini, saya tidak merasakan adanya perkembangan infrastruktur yang bisa mencengangkan dari sebuah tempat yang bernama Medan, yang konon dianggap sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia. Sebagai contoh yang bisa kita lihat sekarang ini adalah kondisi jalan di Medan yang rusak dimana-mana dan tidak terlihat ada upaya perbaikan. Dibandingkan kota lain di Indonesia, kondisi jalan di Medan sangat lah parah. Membayangkan jalan tol di tengah kota seperti membayangkan mengukir di atas air. Bertahun-tahun hanya ada satu jembatan layang yang juga kondisinya tidak bagus. Belum lagi ketiadaan trotoar yang nyaman untuk pejalan kaki, tidak usah kita mimpikan. Apalagi kalau kita harus melewati Bandara Internasional Polonia, sungguh miris melihat kondisinya yang sudah seperti terminal bus saja.
Banyak yang mengatakan bahwa Medan adalah kota besar, tapi kenyataannya infrastruktur berkelas kota besar tidak kita temukan. Seperti contoh jalan dan trotoar tadi, kemudian bandara yang masih seadanya. Cobalah kita melihat ke transportasi umum, kondisinya sungguh mengenaskan. Baik itu taksi, angkutan kota (sudako) maupun becak motor dan becak dayung. Taksi yang tanpa argo dan supirnya yang tidak ramah serta AC yang jarang dihidupkan menyambut kita kala kita mendarat di bandara Polonia. Belum lagi angkutan kota yang sangat kondisinya sudah jelek dan sopirnya ugal-ugalan. Apalagi becak motor dan becak dayung yang harusnya bisa menjadi ikon kota namun malah menjadi parasit di jalan. Alih-alih menjadi kota metropolitan, Medan malah menjadi kota Jumpalitan.
Dengan kondisi infrastuktur saja rasanya sudah cukup mengatakan bahwa Medan bukanlah merupakan kota besar melainkan hanya sebuah kampung besar. Tapi kenyataanya kondisi Medan lebih parah dari sekedar kebobrokan infrastruktur. Namun Medan sudah dilanda kebobrokan mental. Contoh yang paling mudah kita lihat adalah bagaimana perilaku pengendara di jalan raya di Medan. Betapa semrawutnya. Di simpang-simpang, trafic light harus dijaga oleh Polisi baru dipatuhi. Jika tidak, alamat lampu merah bukan merupakan alasan untuk berhenti. Banyak yang bilang, merah tanda berani, makanya banyak yang berani melanggar lampu merah. Sungguh mengenaskan saudara-saudara. Apalagi kelakuan supir angkot dan pengendara becak. Berhenti sembarangan maupun melawan arus jalan, sudah menjadi kebiasaan. Lain lagi kelakuan pengendara sepeda motor atau biasa disebut dengan kereta yang menyalip kanan-kiri tanpa peduli dengan kondisi lalu lintas. Yang penting lewat tanpa peduli apakah orang lain harus mengerem mendadak maupun menghindar. Polisi sepertinya sudah tak mampu berbuat apa-apa untuk memperbaiki kerusakan mental warga kota (“baca: kampung”) raksasa ini. Warga kota yang sadar aturan masih merupakan mimpi di siang bolong di Medan ini.
Menyoal pelayanan publik di kota Medan, rasa-rasanya setali tiga uang dengan soal infrastruktur dan mental warganya. Apa yang terjadi di jalanan lebih kurang terjadi pula di kantor-kantor pelayanan pemerintah. Agaknya istilah kalau bisa susah ngapain dipermudah masih dipegang. Dan mungkin pula petuah dari masa lalu tentang jargon SUMUT atau “semua urusan memakai uang tunai” masih menjadi kitab tuntunan sejati bagi birokrasi. Bagi warga yang berpunya, tentu hal ini tidak menjadi soal. Tapi bagi warga yang tak berpunya, tentulah ini suatu masalah besar mengingat sebagai warga tentu tidak terlepas dari berbagai urusan dengan birokrasi. Agaknya pelayanan publik yang ramah warga masih jauh dari kenyataan.
Medan sekarang telah berusia 419 tahun pada tanggal 1 Juli 2009 yang lalu. Belum terlalu tua, tapi juga tidak muda untuk ukuran sebuah kota. Sebagai anak jati Medan, saya merasa berkepentingan untuk melihat Medan menjadi kota yang benar-benar nyaman dan ramah pada warganya. Kota dagang yang benar-benar berkelas internasional. Akankah kita harus menunggu empat ratus tahun lagi untuk mencapai itu? Tentunya tidak, dengan kerja keras dan tekad dari segenap warga kota dan pemerintahnya, dalam sepuluh-lima belas tahun mendatang, kita sudah bisa menyaksikan Medan tumbuh menjadi kota metropolitan kelas dunia. Bukan hanya karena gedung-gedung tinggi menjulang, tetapi dengan budaya dan pelayanan yang berkelas untuk semua warganya tanpa kecuali. DIRGAHAYU KOTA MEDAN.

Menara Air Tirtanadi, Menyimpan Sejarah tentang Medan
Sumber foto:
1.http://www.formatnews.com/
2. http://www.sahatsimarmata.blogspot.com/